Jaim …. Jaga Image

Waktu kami baru pindah ke Canada suami belum punya pekerjaan. Sebulan lewat, belum ada berita apa-apa dari surat lamaran yang dikirim. Bulan kedua, ketiga dan seterusnya tidak jauh beda. Paling ada interview, tapi hasilnya nol besar. Bayangkan, pendapatan mampet pet, padahal pengeluaran seperti air bah, apalagi kalau diukur pakai Rupiah, seperti sewa rumah, furniture, dan makanan. Nggak ada deh yang namanya makan di restoran, beli mainan untuk anak, dan pengeluaran sekunder lainnya. Kami rajin berburu barang di garage sale. Suami yang dulu jadi langganannya Alfons, sekarang rambutnya ditangani istri. Dengan akibat rambutnya dihiasi pitak sedikit. Tidak ada pilihan lain selain jadi buruh. Suami tiap hari bangun jam 3 pagi untuk mengantar koran. Bayangkan, dulu manager, sekarang jadi paperboy! Tentu saja kami tidak cerita sama orang di Jakarta, jaim donk!

Istilah ‘jaim‘ kini sangat populer di Indonesia. Jaim adalah kependekan dari Jaga Image. Dalam arti luasnya bisa menjaga status, menjaga reputasi, menjaga kelakuan, atau menjaga penampilan. Hidup di Indonesia dan Jakarta khususnya, menjaga image itu amat penting. Bayangkan, betapa malunya mertua saya kalau mereka tau anaknya yang selalu menjadi boss di Jakarta pernah menjadi loper koran di Canada. Padahal di luar negeri kita tidak pernah dipandang dari segi apa yang kita pakai, apa yang kita miliki atau pun apa profesi kita.

Jika kita berbelanja di Jakarta kita dapat dengan mudah melihat betapa berbedanya pelayanan pada konsumen yang datang dengan berpakaian bagus dan tas mahal dibanding dengan yang datang dengan pakaian sederhana dan sandal jepit. Karena penampilan yang tidak meyakinkan dianggapnya identik dengan daya beli. Jangan coba-coba ke Bank dengan berpakaian lusuh, bisa dikira kita mau merampok bank.

Demikian juga jika kita ke pesta-pesta perkawinan, makin mahal mobil yang kita tumpangi maka makin kagum orang-orang yang melihat kita turun dari mobil. Lebih jauh lagi sangat penting buat para orang tua jika anak-anaknya menikah dengan orang yang sederajat dari segi status sosial dan material.

Namun ‘jaim’ juga ada segi positifnya. Bagi perusahaan, sangatlah penting jika para karyawannya mampu menjaga reputasi yang sejalan dengan kultur perusahaan. Atau buat para orang tua sangatlah penting jika anak-anaknya mampu menjaga reputasi dan nama baik orang tuanya.

Mau tidak mau, suka tidak suka, ‘jaim‘ seperti sudah menjadi suatu keharusan. Namun ‘jaim’ ada bahayanya juga. Banyak orang tertipu oleh kesan pertama. Yang paling penting tentunya adalah jika kita terkesan pada seseorang karena penampilannya maka kita harus mencari tahu apakah kesan yang ditampilkan sesuai dengan kenyataannya.

About author
A Senior Advisor at Deloitte Consulting, USA, Emerging Market Division. She was born in Jakarta, July 22, 1963. She studied accounting in the University of Indonesia and earned her MBA from the University of Adelaide, Australia. As a teenager, she wrote short stories for and won some awards from Gadis, Femina and others youth publications. She also wrote articles for The Jakarta Post.

Siapa yang Harus Belajar Bahasa Indonesia?


Orang asing atau orang Indonesia?

Keindahan dan Kekuatan Bahasa


Membangun identitas bangsa dengan bahasa.

Learning Indonesian Through Cooking


Dadar Gulung, Indonesian stuffed pancake roll.

Bahasa Indonesia © 2012 All Rights Reserved

A Wieke Gur Production

Designed by A Wieke Gur Production